Posted by: kelukman on: Februari 4, 2008
Bismillah
Sebenarnya, artikel ini tidak hanya untuk yang tersakiti hatinya karena beberapa artikel yang dikeluarkan, seperti artikel yang membahas tentang Ayat-ayat Cinta. Entahlah, saya sendiri tidak mengerti siapa pihak yang dimaksud oleh beberapa penilai yang menganggap artikel tersebut dapat menyakiti hati sebagian orang.
Saya coba memeriksa kembali dan menganalisa artikel (yang membahas tentang Ayat-ayat Cinta) tersebut. Barangkali terdapat kesalahan dalam penulisan kalimat yang saya tidak menyadarinya dapat menyakiti perasaan orang lain atau memang kalimat tersebut memiliki makna yang salah.
Dari kesimpulan yang saya dapatkan, bahwa hal-hal yang pernah ditanggapi oleh beberapa penilai namun masih dapat diterima oleh akal sehat saya, adalah tentang penulisan judul tersebut. “Ayat-ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat-. Sungguh, saya tidak mempermasalahkan tentang yang mana itu maksiat? Karena itu sudah terlalu jelas, kecuali jika ia belum membaca atau mendengar Ayat-ayatNya.
Beberapa komentator yang masih memiliki persamaan pandangan (wallahu a’lam) dengan saya, menilainya sebagai sesuatu hal yang vulgar, atau dengan kata lain, sebaiknya menggunakan kalimat yang lain yang tidak langsung memburukkan sesuatu yang terlanjur sudah dinilai positif oleh banyak kaum muslimin. Ada juga yang menilai, bahwa judul tersebut salah. Karena, bagaimana mungkin film maksiat yang jelas-jelas dikatakan sebagai film maksiat itu lebih baik dari film Ayat-ayat Cinta -atau film-film religi lainnya-, yang dilihat dari latar belakangnya mempunyai misi dakwah?
Meskipun sebagian dari tanggapan tersebut sudah saya jawab pada ruang komentar, yakni mengenai mengapa dikatakan “lebih berbahaya”?.
Sebenarnya, yang saya maksud bahwa Film Ayat-ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat- adalah dari sisi prinsip beragama kita. Mengapa dikatakan prinsip?
Sebelumnya saya ingin menjelaskan satu hal. Bahwa dalam artikel tersebut, kekhawatiran saya adalah pada orang-orang yang sudah mempunya tingkat pemahaman agama yang cukup dan orang-orang yang sedang menuju ke tingkat menyenangi mendalami agama, seperti saya sendiri, insya Allah. Namun, bukan berarti tulisan tersebut tidak bermanfaat atau bahkan berbahaya ketika dibaca oleh orang-orang secara umum. Karena saya sendiri yakin, bahwa pembahasan di sana terlalu ringan dan sangat mudah untuk dimengerti. Insya Allah.
Kembali pada pokok permasalahan, mengapa dikatakan “lebih berbahaya”?. Dan mengapa ini menyangkut hal yang prinsip?
Film maksiat (termasuk di dalamnya adalah film porno, film yang mengajak kepada kemusyrikan atau yang mengandung kekufuran, dan lainnya yang di dalamnya melanggar syariat Allah) jelas-jelas LEBIH BERBAHAYA daripada Film Ayat-ayat Cinta yang hanya memperlihatkan sedikit aurat, yang tidak ada ajakan kekufuran, bahkan dibuat berdasarkan sebuah novel yang di dalamnya tertulis Al Quran dan Hadits Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wa sallam-.
Namun, dari penjelasan tersebut yang secara penglihatan kita merupakan pembelaan bagi Film Ayat-ayat Cinta (karena sudah dianggap film maksiat LEBIH BERBAHAYA dari AAC), terdapat hal-hal yang kita tidak menyadarinya (atau mungkin meremehkannya) telah mengeluarkan kita dari berprinsip beragama. Bahwa tidaklah kita mengatakan yang halal, jika Allah telah mengatakan haram. Tidaklah kita mengatakan haram, jika Allah telah mengatakan halal. Tidak!, bahkan sedikitpun kita tidak berani melanggarnya. Apalagi, sampai membela atau mendukung penyelewengan tersebut sampai “mati-matian”.
Di dalam novel tersebut, kita diajari untuk mencintai Allah dan RosulNya. Ketika si Fahri tidak berani di dalam ruang kamar sakit hanya berdua dengan si Maria. Karena apa? Karena memang Allah melarangnya!. Ketika di dalam bis, Fahri menilai bahwa si “wanita bule” memakai pakaian yang membuka aurat dan ia membandingkan dengan Aisha yang begitu terjaga auratnya. Ketika ada orang Mesir yang memaki-maki orang Amerika di dalam bis tersebut, lalu Fahri membela si Amerika tersebut berdasarkan dalil-dalil yang datangnya dari Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Karena apa? Karena memang begitu seharusnya sikap seorang muslim.
Namun lihatlah sekarang. Tak ada lagi Ayat-ayat Cinta yang memegang kuat Cintanya pada agamanya. Duduk berdua-duaan tidak lagi dihiraukan. Bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya, adalah hal yang boleh-boleh saja, sepertinya tak ada lagi dalil. Atau mungkin sudah dimansukh (dihapus) karena tujuan dakwah (entahlah, dakwah atau memang ada laba yang besar di dalamnya, wallahu a’lam) oleh pengarang novel tersebut. Lho, kenyataannya memang demikian. Dia, sang pengarang novel, tidak pernah menolaknya. Bahkan, dalam sebuah situs resmi pembuat fim tersebut dijelaskan bahwa dia membantu proses pemilihan pemain. Ya Allah, ampunilah saya dan Kang Abik. Berilah petunjuk kepada kami. Bahwa yang benar itu benar. Dan yang salah itu salah.
Lihat kembali paragrap di atas duhai kalian yang tersakiti hatinya. Apa yang kita rasakan ketika membaca novelnya? Ada angan apa di dalam senyum harapan kita setelah membacanya?. Bukankah itu novel islamiy? Mengapa dikatakan islamiy? Tidak lain karena di dalamnya dipegang teguh prinsip beragama. Tidak terlemahkan oleh siapapun hanya karena iba atau keadaan. Tidaklah si Fahri menikahi Maria, melainkan karena ia (Maria) telah memeluk Islam. Bahkan, ia (Fahri) bersikukuh untuk tidak menikahi Maria, walaupun ia (Maria) sudah sekarat penuh dengan rasa iba siapapun yang melihatnya, kalau bukan karena Islam yang akhirnya ia pilih.
Sebegitu cepatnya kita meleburkan atau menghancurkan angan-angan kita.
Memang benar bahwa Film Maksiat LEBIH BERBAHAYA dari Film Ayat-ayat Cinta. Namun akan lebih benar lagi jika tidak pernah ada sesuatu yang buruk sehingga dianggap baik hanya karena tidak lebih buruk dari yang lainnya.
Adakah darurat di sana?
Wallahu a’lam!
Film Ayat-ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat-
Film Ayat-ayat Cinta -sebuah bahan renungan-
Ayat-ayat Setan berkedok Ayat-ayat Cinta
[...] terkait: Kepada yang tersakiti hatinya Ayat-ayat Setan berkedok Ayat-ayat [...]
Menyampaikan apa yg kita pikir benar kepada orang lain memang harus dengan cara yg paling bijak. Islam dulu disebarkan di Indonesia antara lain dengan kesenian. Apakah ada yg salah dengan itu? Mungkin umat Islam Indonesia jauh dari sempurna, tapi kalaulah Islam dulu disampaikan dengan cara yg “kaku” saya nggak yakin apakah saya bisa sholat dengan leluasa di mana2 di sebagian besar wilayah Indonesia.
assalamualaikum,
ngaji.., ngaji…, dan terus ngaji kepada ahlinya
sebelum orang lain sesungguhnya diri inilah yang paling layak untuk kita sampaikan nasihat,
apalagi pembahasan permasalahan yang memang tidak sesederhana kenampakkannya ….
apalagi ketika rumitnya syubuhat dan nampak bahwa tidak tahu jalan mana untuk mengurainya …
wahai saudaraku,
kenapa kita harus mengambil beban yang tidak mampu bahu kita untuk mendukungnya…
sampaikan tentang AlQuran dan Sunnah kepada manusia jika kita mampu …
dan cukupkanlah diri kita dengan ridha Allah …
walahu a’lam
barakallahu fiikum
Wa ‘alaykumussalam warohmatulloh
Jazakalloh khoir atas nasihatnya.
Wallahu a’lam.
Wa iyyakum.
sebenernya apa sich yg anda permasalahkan??
“Namun lihatlah sekarang. Tak ada lagi Ayat-ayat Cinta yang memegang kuat Cintanya pada agamanya. Duduk berdua-duaan tidak lagi dihiraukan. Bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya, adalah hal yang boleh-boleh saja, sepertinya tak ada lagi dalil. Atau mungkin sudah dimansukh (dihapus) karena tujuan dakwah (entahlah, dakwah atau memang ada laba yang besar di dalamnya, wallahu a’lam) oleh pengarang novel tersebut.”
apakah itu yg anda permasalahkan?? tidakkah anda lihat film-film laen yg lebih vulgar lagi daripada film AAC ini?
kenapa hanya film AAC ini saja yg anda anggap berbahaya? kenapa film laen tidak? ataukah karena ini film dakwah lantas anda menganggap berbahaya? sedangkan film yang bukan dakwah, tidak berbahaya? jangan tebang pilih dong, klo memang ingin menegakkan, harusnya bukan hanya film AAC yg anda anggap berbahaya..
dan jika memang
“Duduk berdua-duaan tidak lagi dihiraukan. Bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya”
tidak boleh, walaupun hanya dalam film saja. seharusnya yg anda protes adalah lembaga sensor yg meloloskan film.. bukan film AAC.. karena telah banyak film-film sebelum AAC yang melakukan
“Duduk berdua-duaan tidak lagi dihiraukan. Bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya”
jangan tebang pilih dong.. dan jika lembaga sensor tidak meloloskan film AAC ini karena,
“Duduk berdua-duaan tidak lagi dihiraukan. Bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya”
maka, film-film laen yang melakukan
“Duduk berdua-duaan tidak lagi dihiraukan. Bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahromnya”
tidak boleh juga diloloskan..
Assalamu’alaikum.
Salam kenal ya akhi dr ana ikhwah dr Bekasi.
Bukannya nyombong nih. Saya masih sodaraan lo sama Rianty si pemeran Aisha. Dn setahu saya dia muslim (dari penuturan orang2 terdekat saya, misalnya Umi saya yg sepupuan sama uminya Mbak Anty). Berarti Mas Hanung salah dong?
Barakallahu fiik.
Assalamu’alaikum.
Ralat: Ternyata yg dimaksud dblog tersebut adl Nadine yg awalnya ingin dipakai Mas Hanung sbg pemeran Aisha (yg notabene si Nadine emang Kristen). Alhamdulillah ternyata Mba Anty tetap tegar di atas Islam di tengah gelombang pergaulannya yg kebarat2an.
Assalamu’alaikum.
Menarik untuk dicermati lebih lanjut salah satu tulisan Mas Hanung dlm blog tersebut:
‘Suatu hal yang unik, ketika tokoh Maria yang kristen dimainkan oleh seorang muslim, sementara tokoh Aisha yang Islam dimainkan seorang kristen. Ini akan memperlihatkan sikap toleransi dan demokratisasi dalam Islam seperti di India.’
Tetapi kang abik dan pak Din Syamsudin menyarankan untuk jangan bertaruh terlalu besar di film ini. Masyarakat Islam di Indonesia berbeda dengan India. Di India, masyarakat moslem dan Non Moslem sudah terdidik tingkat kedewasaan dalam toleransi, sementara di Indonesia belum. Akhirnya dipilihlah Ryanti sebagai Aisha dan Carrisa Putri sebagai Maria.
Lantas bila masyarakat Indonesia sudah sprti masyarakat India (toleransi tanpa batas, seorang muslim -Shah Rukh Khan- menikah dgn seorang Hindu). Trus mo gmn? Apa mw diciptakan ide silang peran seperti idenya Mas Hanung?
Assalamu’alaikum ,
Akhi yang dirahmati Alloh, semoga antum sekeluarga dalam lindungan rahmat iman dan Islam, jangan ragu Akh. untuk menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit, soal hasilnya Alloh lah yang akan membalasnya,
Wassalamualaikum Wr Wb
assalamu’alaikum..
analogi yang sama mungkin :
sering orang berkata, “para koruptor tidak ditangkap tapi maling ayam di kampung digebukin.”
artinya : dengan tidak ditangkapnya koruptor bukan berarti pelaku maling ayam benar tindakannya.
koruptor tetaplah koruptor dan salah.
begitu juga maling ayam.
film maksiat maupun film AAC -yang katanya film islami- ini tetaplah salah karena berisi kemaksiatan terhadap dien ini.
wallohua’lam
wassalam.
kenapa anda sendiri membaca hal yang sia2
assalamua’laikum….
akhi…mereka itu buta mata hatinya…tidak bisa membedakan mana yg haq mana yg batil,lebih mementingkan hawa nafsunya dan akalnya.
|Yang penting bagi kita, bagaimana berdakwah sesuai dgn manhaj salafussholeh..sekali layar terkembang pantang surut ke belakang…maju tak gentar..
lebih baik kasih tahu n jelasin kemereka…apa sajakah yg membuat para shahabat/tabi’in berjaya/menang, bukan dgn cara batil spt itu (layaknya kaum nashrani,’sandiwara’segala ky ’shakespeare’ aja)
DAH PADA SHOLAT BELUM?????????????
2 | binchoutan
Februari 4, 2008 pada 4:04 pm
mungkin yang paling tersakiti hatinya itu…
huumm Kang Abik sang pengarang dan
mas hanung bramantyo sang sutradara
Sudah pernah baca kisah dibalik pembuatan film Ayat – Ayat Cinta? Gimana susahnya Mas Hanung berusaha menampilkan yang terbaik???? belum apa – apa sudah ada yang protes… apalagi seperti biasa, setelah menonton filmnya lantas “Menghujat” karena tidak sesuai dengan bayangan…
Makanya baca dulu kisahnya Mas Hanung
http://hanungbramantyo.multiply.com
cobalah hargai bagaimana usaha orang lain, dan melihat segala sesuatu dengan lebih bijak. Jangan lantas menghujat sedemikian rupa
harapan saya.. semoga Mas Hanung Bramantyo tidak sempat membaca tulisan sebelumnya yang mengatakan film Ayat – Ayat Cinta lebih berbahaya dari film maksiat.