www.ruanghakim.co.cc

Nge-blog itu Bid’ah!?

Posted on: Maret 3, 2008

Bismillahirrohmanirrohim

Banyaknya artikel yang membahas suatu bid’ah yang sudah melekat di kalangan masyarakat kita, menjadikan kata bid’ah sebagai suatu hal begitu sulit dimengerti padahal yang sebenarnya cukup mudah untuk dimengerti. Ada yang memang benar-benar belum mengerti tentang definisi bid’ah, ada juga orang yang sengaja untuk menyelewengakan (mempermainkan) kata bid’ah padahal ia mengerti, ada juga orang yang menjadi bingung karena terpengaruh oleh jenis orang yang kedua tadi.

Ada yang bertanya, “Main komputer bid’ah dong?” (Entahlah, apakah ia memang belum mengerti tentang definisi bid’ah, atau ia sengaja mempermainkan akalnya sendiri. Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya). Ada lagi yang lain, “Naik mobil, bid’ah ya?”. Kalau begitu penilaiannya, mengapa tidak sekalian saja rumah, merek sepatu, merek sandal, pulpen, tip eks, dan lain-lainnya dianggap bid’ah karena tidak ada atau tidak sama dengan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan juga para sahabat rodiyallohu ‘anhum.

Tidak perlu melebar pembahasan ke mana-mana, karena sekarang kita fokuskan pada permasalahan nge-blog. Insya Allah, meskipun hanya membahas apakah blog itu bid’ah permasalahan lainnya pun akan menjadi lebih jelas.

Sebelum menentukan apakah nge-blog itu bid’ah atau tidak, akan lebih mudah dimengerti jika kita tahu tentang apa itu bid’ah terlebih dahulu.

Dalam hal ini, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rohimahulloh telah menjelaskannya sebagai berikut:

“Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I’tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
“Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan”.
Para shahabat bertanya : “Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : “Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku”.

Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
“Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak”.
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
“Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)”

Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan mereka menyatakan pula :
“Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)”

Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan adat itu sendiri terbagi tiga :
Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).
Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.
Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam.
(Al Fatawa As Sa`diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah)

Begitulah penjelasan para ulama tentang bid’ah. Jadi, bukan setiap apa-apa yang tidak ada pada masa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dianggap bid’ah. Namun, jika hal tersebut merupakan bagian dari yang menyangkut dengan keyakinan, ibadah, dan lainnya yang memang telah ditetapkan oleh Allah dan RosulNya, apakah itu wajib, sunnah, halal, haram, makruh, mubah namun kita tidak mengikutinya maka itulah bid’ah. Juga, ibadah apapun yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah atau tidak dicontohkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam namun kita mengerjakannya hanya karena menganggap sebagai ibadah, itupun merupakan bid’ah.

Dan kaitannya dengan blog, bahwa blog itu merupakan sarana/fasilitas yang sifat awalnya adalah mubah. Sama seperti mobil atau bis. Jika kita menggunakannya untuk menabrak orang, atau merusak jalanan maka itu yang dilarang. Namun, jika kita menggunakannya untuk hal-hal yang tidak ada larangan di dalamnya maka silakan saja memiliki mobil atau sepeda motor. Begitupun dengan komputer/internet. Jika digunakan terus menerus hingga melalaikan waktu ibadah, maka itu yang dilarang.

Internet, yang di dalamnya terdapat gambar, situs-situs dengan ajakan kekafiran, atau pemikiran sesat lainnya. Perlu diketahui, jika kita membuka satu situs, maka situs yang lain tidak akan terbuka. Artinya, satu situs yang dibuka itulah yang kita lihat. Dua situs yang kita buka, itulah yang kita lihat dan kita baca, kalau tiga situs yang dibuka maka tiga situs yang dilihat. Pengunaan blog/internet itu tergantung pemakaian kita. Tidak tiba-tiba datang situs yang di dalamnya banyak gambar makhluk, situs berpemikiran sesat/kafir. Alhamdulillah, yang tampil di hadapan kita hanyalah yang kita pilih untuk tampil.

Hal seperti ini sama persis ketika kita masuk ke dalam toko buku. Ada banyak buku di sana. Ada yang sifatnya biasa saja (tidak berbahaya dan tidak bermanfaat), ada yang bermanfaat, dan ada juga yang berbahaya jika dibaca. Tergantung bagaimana kita menyukai buku bacaan tersebut.

Buku-buku atau blog yang penuh dengan tulisan-tulisan bermanfaat adalah hal yang sangat bagus untuk dibaca.

Karena buku atau blog bukanlah suatu syarat, rukun, atau satu kewajiban dari dakwah. Melainkan isi dari yang ingin disampaikanlah yang menjadi patokannya. Karena, hal itulah yang menyangkut dengan keyakinan. Apakah menyesatkan atau mengikuti jalan ulama?.

Wallahu a’lam.

Penjelasan bid’ah diambil dari: http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=29

2 Tanggapan to "Nge-blog itu Bid’ah!?"

menurut saya umat Isalm sekarang tidak akan terhindar dari bid’ah meskipun sudah teriak-teriak bid’ah….bid’ah…ngak ada dalilnya kecuali di zaman Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabat r.a.

makan 3 kali ga bid’ah,krn agama menyuruh kita makan tidak terlalu kenyang dan lagian juga itu tergantung kita makannya,kalo sekali makan kita habis nasi 1 bakul ya pasti kekenyangan,tapi kalau 3 kali tapi ga terlalu banyak ya gpp,tergantung kebiasaan kita,yang penting halal dan baik,kalo kasih comment yang bermutu dunkz,nah kalo nanya makan 3 kali sehari dibilang bid’ah,berarti orang yang lebih bego akan nanya :mandi 2 kali sehari bid’ah ga ya??,
tau kan maksudnya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Statistik

  • 28,572 users

RSS Abu Salma M. Fachrozi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sunniy Salafiy

  • Haramnya Tathayyur (Anggapan Sial Karena Seseorang Atau Sesuatu)
    asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran,…Read more › […]
    Admin Blog Sunniy Salafy
  • Tidak Boleh Mengurungkan Hajat Karena Menganggap Sial Sesuatu
    asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang thiyarah mengurungkan dia dari hajatnya maka ia telah berbuat syirik”, Para shahabat bertanya, “Lalu apa kaffarahnya?”, Rasulullah shallallahu ’alaihi…Read more ›
    Admin Blog Sunniy Salafy
  • Keutamaan Puasa Ramadhan dan Hikmah Pensyariatan Puasa Ramadhan
    Majmu’ minal Ulama Keutamaannya Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، ومَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ…Read more › […]
    Admin Blog Sunniy Salafy

LINK SAHABAT

Promosi Author

%d blogger menyukai ini: