www.ruanghakim.co.cc

Film Ayat-Ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat-

Posted on: Maret 5, 2008

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdulillah, sebelumnya saya ingin menjelaskan satu hal. Bahwa, judul tulisan ini bukan bermaksud merubah pengertian dari judul artikel sebelumnya, yaitu Film Ayat-Ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat-. Saya bersyukur, bahwa tulisan tersebut mendapat respon yang cukup banyak dari pembaca. Sehingga, ketika saya berusaha telah merubah judul aslinya menjadi Film Ayat-Ayat Cinta -sebuah bahan renungan-, saya berharap agar tidak ada lagi kesalah pahaman dari pembaca ketika membaca tulisan tersebut. Namun, saya sendiri heran ketika sign in ke wordpress saya lihat ada artikel yang mendapatkan respon terbanyak dengan judul yang hampir sama dengan judul artikel yang saya buat. Ketika saya buka di blog yang memasang artikel tersebut, ternyata memang benar bahwa tulisan tersebut merupakan hasil salinan dari artikel yang saya tulis. Dan memang, pemilik blog tersebut telah menyebutkan bahwa tulisannya merupakan hasil analisa dari saya. Namun, terus terang saya belum menyetujui pemilik blog tersebut untuk memasang artikel dari saya. Karena, saya khawatir ia akan membuka forum tanya jawab di sana. Sementara, ia menjelaskannya bukan seperti yang saya maksudkan. Semoga Allah menjaga dari hal tersebut. Dan semoga polemik tentang judul artikel tersebut dapat berakhir dengan baik.

Kembali kepada judul artikel ini, bahwa yang dimaksud Film Ayat-ayat Cinta tidak lebih berbahaya dari film maksiat adalah dari banyak hal. Di antaranya, kalau yang dimaksud film maksiat itu adalah film yang di dalamnya banyak menampakkan aurat bahkan tidak sehelai benangpun yang menutupi tubuh, maka ini jelas bahwa film maksiat lebih berbahaya dari film Ayat-ayat Cinta. Dan kalau yang dimaksudkan adalah bahwa film maksiat adalah film yang mengajak kepada perbuatan yang berdosa, maka jelas secara tujuan yang dibuatpun film seperti ini masih lebih berbahaya dari film Ayat-ayat Cinta.

Namun secara keseluruhan, film Ayat-ayat Cinta adalah sama saja dengan film-film lainnya. Sama saja seperti sandiwara-sandiwara lainnya yang tujuan kebaikan yang diinginkan lebih sedikit, bahkan sangat sedikit atau bahkan hampir para peminatnya tidak bisa mengambil manfaat darinya dan keburukan yang terdapat di dalamnya sangat banyak. Hal ini sudah disebutkan pada artikel Film Ayat-ayat Cinta -sebuah bahan renungan- atau di Ayat-ayat Setan Berkedok Ayat-ayat Cinta.

Dan saya sangat heran juga ketika dari era muslim menanggapi artikel tersebut. Di sana dikatakan:

Kesimpulan sederhananya, orang Arab (Timur Tengah) adalah anti film, jadi percuma berdakwah kepada mereka dengan menggunakan film. Belum apa-apa mereka sudah bikin fatwa sesat dan haram, tanpa pernah melihat filmnya. Pokoknya masuk bioskop saja sudah haram, biarpun filmnya dari awal hingga akhir isinya hanya kumpulan rekaman ceramah.

Begitulah yang dijawab oleh era muslim ketika menjawab seorang penanya yang memerlukan kepastian jawaban.

Dan juga dikatakan di sana:

Mulai dari antri tiket, sampai urusan campur baur laki-laki dan perempuan di dalam ruang theater, sampai pemain filmnya ada yang perempuan dan seterusnya, semua akan dijadikan dasar keharaman sebuah film dan bioskop. Dan itu buat mereka adalah harga mati.

Saya heran dengan jawaban dari era muslim. Padahal, hal-hal yang ia ragukan tersebut yang oleh orang Arab (menurutnya) dianggap sebagai harga mati memang sudah dijelaskan di dalam Al Qur’an dan hadits nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Saya berusaha untuk tidak berburuk sangka dengannya. Mungkin, ia hanya ingin berusaha bersikap “adil” di kalangan pembacanya. Namun, mengapa ia tidak mau bersikap adil dengan agamanya. Dan sayangnya, era muslim sendiri tidak menjawabnya dengan tegas. Yang ditanya mengenai kejelasan apakah Film Ayat-ayat Cinta lebih berbahaya dari film maksiat atau tidak? Kalau memang lebih berbahaya, dari segi apanya? Kalau tidak lebih berbahaya, dari segi mananya?.

Dan hasil dari jawabannya sungguh membingungkan. Mengapa malah di sana dikatakan:

Walhasil, dari sudut pandang ini, film itu kurang mengangkat ke-Mesiran-nya, Tapi apa itu penting buat penonton di negeri ini?

Aneh memang. Padahal ia baru menyebutkan kedua sisi. Sisi sufi (suka film) dan sisi tifi (anti film), berakhir dengan pernyataan yang menyisakan tanya. Namun, kalau melihat artikel-artikel yang ada di dalam situs era muslim sendiri saya tidak akan heran dengan jawaban tersebut. Di dalamnya sendiri, terlalu banyak artikel yang saling berseberangan antara satu dengan lainnya. Di sana juga terdapat iklan yang melanggar syariat.

Baik, saya di sini tidak hanya ingin mengatakan bahwa sebaiknya jangan berkonsultasi di era muslim. Tapi, saya juga ingin memberikan jalan keluar (solusi). Kalau ingin bertanya, konsultasi, dan lainnya yang kita ingin mendapatkan jawaban yang benar, tegas, dan ada dasarnya dari Al Qur’an dan As Sunnah dan mengikuti penjelasan ulama, maka silakan untuk mengunjungi beberapa situs di bawah ini:

1. Asy-Syari’ah
2. Darussalaf
3. Ahlussunnah Jakarta
4. Assalafy
5. Annashihah
6. Dan bisa di cari di Gsalaf.com

Demikianlah, sehingga film Ayat-ayat Cinta sama saja seperti film-film lainnya. Keburukan yang banyak yang terdapat di dalamnya, menghiasi secuil kebaikan yang diharapkan oleh pembuatnya. Apalagi, sampai dikatakan sebagai film dakwah. Sungguh, jauh panggang dari api. Bagaikan pungguk merindukan bulan. Bagaikan timur dengan barat. Berseberangan. Karena memang tidak ada dakwah lewat hal yang demikian. Masih banyak cara yang syra’i yang diridhoi Allah ketimbang membuat film. Meski, dari segi tontonannya film-film maksiat yang berbau pornograpi dikatakan lebih berbahaya dari film Ayat-ayat Cinta.

Jadi, kesimpulannya bahwa kedua judul tersebut, Film Ayat-Ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat- dan artikel ini, memang memiliki sisi pandang yang berbeda. Dikatakan lebih berbahaya, karena film tersebut dianggap film dakwah atau bahkan dianggap telah melakukan ibadah setelah membuat atau menonton film tersebut, padahal banyak sekali larangan yang dilanggar di sana. Dan dikatakan tidak lebih berbahaya, karena dari sisi tampilan yang ditayangkan.

Wallahu a’lam.

52 Tanggapan to "Film Ayat-Ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat-"

[…] terkait: Film Ayat-ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat- Kepada yang tersakiti hatinya Ayat-ayat Setan berkedok Ayat-ayat Cinta […]

[…] terkait: Film Ayat-ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat- Film Ayat-ayat Cinta -sebuah bahan renungan- Kepada yang tersakiti […]

[…] Film Ayat-ayat Cinta -Tidak Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat- Film Ayat-ayat Cinta -sebuah bahan renungan- Ayat-ayat Setan berkedok Ayat-ayat Cinta […]

udah liat ke era muslim. bener juga, mas. kok bisa ya, ustadnya jawabnya kayak gitu.
salut deh pokonya.

Mas, coba degh lebih ditingkatkan lagi usahanya selain dengan tulisan.
Kalo ada rezeki waktu dan kesempatan langsung aja dateng ke bioskop yang memutar film Ayat-Ayat Cinta dan langsung berbicara dengan yang akan menonton.
Dengan alasan, analisa dan kekritisan Mas dalam menyoal film Ayat-Ayat Cinta…sangat wajar kalo Mas lebih ‘berbicara’ langsung bukan saja dengan tulisan.
Gimana Mas ?

Masya Allah. Dulu, saya pernah beberapa kali ke sana _Ya Allah ampuni saya-, dan saat ini setelah saya mengetahui persis keadaannya maka saya mengatakan dengan tegas bahwa hal itu “menurut saya” terlarang. Dengan alasan apa saya harus mencobanya? Tidak akan lagi. Bahkan, walau sedetik.
Saat ini, mungkin saya hanya baru bisa menyampaikannya lewat tulisan. Dan alhamdulillah, sudah banyak yang membacanya. Bahkan, seperti yang diharapkan. Mereka adalah orang-orang yang memang sangat ingin menyaksikannya. Meski, belum semuanya menerima tulisan saya. Karena hidayah adalah milik Allah.
Jangankan saya, Rosululloh saja tidak mampu memberikan hidayah kepada orang-orang yang ia cintai, apalagi saya?
Kepada Allah kita bertawakkal.
Wallahu a’lam.

Adakah alasan kenapa tidak menyampaikan langsung, tidak hanya dengan tulisan ??
Bukankah untuk menyampaikan kebenaran itu musti dilakukan dimana saja ?
Insya Allah yang sudah baca tulisan Mas emang banyak, tp dibandingkan yang sudah dan akan menonton filmnya ??
Mengutip data di detik.com, hanya dalam 4 hari saja penontonnya berkisar di 700rb.
Siapa tau, dengan orang menerima langsung pandangan Mas soal film A2C, bukan hanya dengan tulisan, orang tersebut bisa mendapatkan hidayah dari Allah ??

Mas, maksud saya adalah

Kalau saya ke sana (bioskop) dan ikut2 an nonton, tangan ini, mata ini, hati ini, mulut ini, akan dimintakan pertanggung jawabannya.
Cukuplah dalam penyampaian itu tidak sampai memaksakan diri sampai “membunuh” diri kita.
Diri kita lebih diutamakan.
Sekali lagi, apa yang paling bisa kita lakukan dan selagi itu tidak mengandung unsur larangan, lakukan.

700rb dalam 4 hari saja?
Ya Allah, semoga tidak sebesar itu pula fitnah yang diakibatkan.

Hidayah milik Allah. Hanya milik Allah.

Ke bioskop saja kan belum tentu harus nonton. Semisal saja, Mas buat copy dari tulisan ‘pengingatan’ soal film Ayat2 Cinta menurut pandangannya Mas. Kemudian disebarkan di pintu masuk bioskopnya sebelum orang2 membeli tiket. Atau bisa saja dibagikan pada saat orang2 masuk Mall-nya.
Dan saya pikir dengan cara itu bukan merupakan hal yang berat dan ‘membunuh’ Mas yang memiliki keilmuan yang lebih dibanding orang2 yang akan menonton film Ayat2 Cinta.
Wah, kalo 700rb dalam 4 hari aja mah ga seberapa atuh Mas, dibandingkan orang yang nonton sinetron di televisi setiap harinya.

Mas wisnu, tidak ada tulisan dari saya sedikitpun yang mengatakan bahwa sinetron itu baik. Hanya saja, kemampuan manusia itu terbatas. Namun, jika Mas Wisnu mau mencerna lebih dalam maksud dari tulisan saya. Maka, akan didapatkan bahwa sifat-sifat yang ada dalam film AAC (baik pembuatannya maupun penayangannya) itu pun ada pada sinetron atau hal-hal lain yang serupa dengannya. Maka, secara tidak langsung, kitapun menganggapnya bahaya untuk dilihat.

Mas, kalo tau seandainya menonton film itu salah, apakah kita tetap berdiam atau memberitahu meski tetep dianggap ada unsur melarang ? Bukankah hukum itu memang sesuatu yang sifatnya melarang dan memaksa ??

Apa yang dilakukan? Yang jelas, jangan membantah kebodohan dengan kebodohan, kemaksiatan dengan kemaksiatn pula. Hal-hal seperti itu, hanya dilakukan oleh orang-orang yang telah menyerah. Sudah kehabisan cara. Oleh orang-orang yang tidak benar-benar ada rasa sayang di dalam dirinya.
Yang penting adalah sabar. Kita tidak bisa memaksakan hidayah itu harus bisa diterima. Kalau Allah belum menghendaki, maka itu yang terbaik. Dan juga, jangan lupa berdoa untuk diberikan kepada mereka hidayah. Karena, doa merupakan kunci untuk mendapatkannya. Sudahkah kita berdoa untuk saudara kita hari ini? Jangan2 kita belum melakukannya. Jika, hal sekecil itu (walaupun sebenarnya, sangat besar) belum kita lakukan, berarti kita tidak benar-benar memikirkan saudara kita. Wallahu a’lam.

klu ada yang bilang film ayatayat cita itu adalah film yang membawa maksiat itu adalah orang yang iri pada keberhasilan orang kasian kan orang seperti itu

Iri? Semoga Allah menjaga saya dari yang demikian dan mengampuni saya jika ada sedikit saja di dalam hati saya akan hal itu. Keberhasilan? Mbak Lina, kalau yang dibilang keberhasilan itu dari sudut banyaknya yang menonton, saya justeru akan kasihan dengan yang membuat film. Karena, ada banyak orang yang awalnya belum pernah ke bioskop jadi ikut2 ke bioskop. Auratnya pemain film, jadi banyak yang melihat. Sehingga yang membuat film, semakin besar pertanggungjawabannya nanti. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua.

mas, udah nonton AAC belum? kalau belum, sebaiknya jangan komentar dulu dong. ntar sama dengan tuna netra berkomentar jeleknya sungai nil meski sama sekali belum pernah melihatnya😀
kenapa cuma berani komentar AAC ? kenapa ga semua film (luar maupun dalam negeri) dikomentari?? bukankah nyaris semua tidaklah lebih baik dari AAC? setidaknya AAC memberi sedikit pencerahan, setidaknya lebih mengenalkan ta’aruf kepada kawulu muda yang kini lebih suka berpacaran. kenapa ga coba ambil nilai positif?
kalau memang menganggap semua sinetron dan film maksiat, mengapa ga buat sekalian HP atau stasiun tv yang Islami?
apakah anda menganggap semua film tidak islami? padahal Islam itu universal baca ini :(mode: on)
ma’afkan bila ada salah kata..

mas, kalo Anda berani mengatakan seperti itu berarti Anda juga sudah menonton filmnya!!!
Semuanya itu kembali kepada diri kita ssendiri, mampukah kita menjaga anggota tubuh kita daripada perbuatan maksiat yang ada. kita juga bisa mengambil apa yang baik daripada film itu.

saya jua setuju terhadap paendapat saudara dani.

menurut saya meskipun ga liat filmnya yang pasti berdosa karena apa yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, karena Allah Maha Melihat, Maha mengetahui, Maha segala-galanya serta 2 malaikat yang selalu mencatat setiap amalan kita. dan dalam mahfum hadist Nabi SAW yang artinya kurang lebih ” tidak bergeser kaki seorang hamba sebelum ditanya 4 perkara: 1.umurnya? 2. masa muda? 3. ilmu? 4.harta dapat dari mana dan dibelanjakan kemana? semoga Allah SWT memberikan hidayah kpd hamba Allah yg hina ini serta kepada kaum muslimin dan muslimat seluruh alam…Amin ya robbal “alamin

Smuanya,
Kalau anda menganggap film ini jelek, haram atau apalah, jangan nonton. Terlanjur nonton (setelah itjihadnya mengambil kesimpulan demikian), minta maaf sama yang di atas.
Bagi yang tidak, ambil positifnya, toh tidak semua hal di dalam film tersebut negatif.
Di luar film (masalah bioskop, dlsb), apa gak sama dengan non-bioskop, misal sekolah, di jalan (kan campur juga), asal gak bersentuhan. Toh itu kan film (terlepas dari niat produser, sutradara dan semua yang terlibat dalam pembuatan film tsb), sama dengan kehidupan sekarang.
Betul akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Allah itu menilai proses. Seorang bajingan 100 tahun, kalu di 1 detik terakhir di hidupnya dia sadar akan penciptanya atau Tuhannya. Let Allah decide. Itu udah wilayah otak Allah. Hati-hati, Islam tidak mengajarkan untuk fanatisme berlebihan, atau saklek semuanya. Pasti ada garis tegas. Ingatlah saudara2ku sekalian. Ummat yang paling hebat adalah ummat setelah Rasul wafat. Mulai dari hal kecil, saat ini dan diri sendiri.

astaghfirullaaah… ckk…
lantas kita ini maunya yang gimana coba?
ketika kita sudah bosan disuguhi film-film sekuler dan vulgar, kita prihatin, eeeh, ketika hadir satu film yang (berusaha) tampil secara Islam(i)–walau sebatas lahiriah–ternyata kita lebih doyan menjustifikasi, mengklaim subjektivitas diri ini sebagai klaim kebenaran mutlak, di sisi lain kita malah menghujat, mencaci, mencerca.
.
Mau dikemanakan “wajah” Islam yang dibawa Rasulullah ini, ha?
.
Yakin saya, titik ini bisa menjadi pemicu perdebatan super panjang, hingga akhirnya masalah2 krusial di depan mata menjadi terlupakan, termasuk hasrat untuk bersatu sesama muslim.

Ass wr wb,

Saudaraku yang dimuliakan Allah swt, membaca komentar-komentar diatas, menjadikan kita harusnya bisa mengambil hikmah dari setiap komentar. sebagai saudara muslim pantaslah kita membantah dengan cara yang baik. semoga sahabat lebih mengingat Allah SWT, dari pada makhluk.

Cara pandang orang berbeda-beda, latar belakang, tingkat pendidikan, pengalaman, pengetahuan, tapi yang paling baik, adalah berdasarkan Al-Qur’an dan as-sunnah yang menjadikan pedoman, idologi umat Islam, syaratnya dia mengaku memiliki Agama Islam sebagai pijakan setiap langkah hidupnya, way of life.

sekiranya beliau-beliau tidak mengaku Islam, yang dpersilhkan, tidak ada paksaan dalam berIslam. Cuma punya kewajiban menyampaikan, berdakwah, mengajak yang mau.

jadi, yang merasa dirinya punya komentar baik, semoga bukan karena nafsu, tapi benar-benar karena Allah SWT, yang Maha Melihat.

Semoga Allah menggolongkan kita menjadi hamba yang menegakkan yang benar. Amin

Wass wr wb

inna sholata tanha ‘anil fahsya i wal munkar…sungguh sangat menyedihkan di satu sisi mengumandangkan Allohu Akbar tapi di sisi lain mengatakan “…adalah Seorang Kafir sama seperti saya…”

Assalaamu’alaikum wr.wb.

Saya yakin bahwa baik mas Lukman maupun komentator lainnya memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik. Dan saya yakin pula kalau satu orang dengan orang yang lainnya memiliki pengalaman yang berbeda dalam mencari kebenaran.

Kalo boleh saya tahu, usia mas Lukman sekarang berapa?
Kemudian pekerjaan mas Lukman sehari – hari apa?
Dan bagaimana pendapat mas Lukman mengenai sifat dan tabiat masyarakat Indonesia pada umumnya sekarang ini?

Terima kasih. Mohon maaf bila ada kata yang salah..

Wassalaamu’alaikum wr.wb.

Sepertinya Bung Lukman ini adalah seorang yang baru belajar Islam….Yang dia tahu hanya halal dan haram saja. Banyaklah membaca supaya wawasan anda tidak picik…saya juga baru belajar Islam lebih mendalam dan saya mendapati bahwa Islam itu sangatlah Luas dan lebih sejalan dengan rasio/akal…
Jangan karena hanya mebaca satu atau dua kitab/buku lalu kemudian menganggap apa yang tertulis di buku itu merupakan kebenaran yang mutlak lalu menghakimi ini itu haram. Bacalah juga literatur lain sebagai perbandingan. Misalnya anda baca kitab2 bermazhab syafi’i lalu bandingkan dengan kitab2 bermazhab hanafiyah ato lainnya. Dan analisa juga dengan akal anda sendiri.

kitab dari Imam Syafi’i atau Imam Hanafi mana yang membolehkan adegan-adegan atau proses pembuatan film atau ketika sedang berlangsungnya? Sebutkan, satu kalimat saja. Film itu dibuat dengan waktu yang cukup lama. Ada proses editing di sana. Sehingga, mustahil kalau mereka menganggap tidak tahu bahwa ada adegan, tontonan atau proses lainnya yang melanggar syariat.

Penggunaan akal dalam mengarahkan wahyu pada tujuan syar’i mutlak diperlukan sebagaimana para ulama salaf juga telah melakukanya. Janganlah menafsirkan nash sesuai kehendak anda untuk mendukung pernyataan pada tulisan2 anda sebelumnya walaupun untuk tujuan baik. ini sama saja berdakwah dengan segala cara dengan menafsirkan teks2 Qur’an dan hadits sesuka hati.
sebagai contoh anda : menggunakan Q.S Al Isra’ :32 sebagai hujjah untuk mengaramkan menonton AAC. Masuk akal kah?….Segi mana AAC yang mengandung zina? Apa yang anda pahami tentang Zina? tidak satupun adegan dalam AAC itu yang mengarah ke zina. Bukankah anda menghakimi AAC dengan ayat tersebut hanya sekedar berdasarkan penafsiran anda tentang zina yang belum tentu sama dengan penafsiran orang lain. Dan sejauh mana kapabilitas anda menafsirkan ayat tersebut?

datangkan bukti-bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar.

“Sholluu ‘ala Nabi 3x
“Kalian telah berseteru dengan Rasulullah di hadapan Allah di akhirat nanti”

Komentarnya nanti aja

soalnya aku mau

“talaqqy di al azhar”

siapa yang mau dibelikan “asyir manggo”?

Saya stuju dgn pernyataan rianti diatas

Yang jelas Novel sama film-nya sangat berbedah, sudah tidak rahasia lagi, memang sutradara dari film tersebut jauh jauh hari sudah menyatakan, kalau film itu tidak dia garap secara Islamy, artinya ada perbedaan diantaranya. Sikap sutradara ini sudah di tentang oleh si penulis Novel, ada perbedaan pandang di antara keduanya. Penulis Novel ingin film ayat ayat cinta lebih memunculkan nilai nilai keislaman seperti apa yang ada di novel, sebaliknya, sang sutradara lebih memandang dari segi komersialnya saja, tanpa memperdulikan Ruh yang terkandung dalam Novel itu sendiri. Permasalan ini bisa kita lihat dengan penggarapan film dari karya novel yang lain KCB, sang penulis Novel sudah tidak melirik lagi sutradara yang menggarap film ayat ayat cinta.

Perombakan zaman yang dasyat, mengakibatkan tergesernya Hukum hukum Islam, tatanan tatanan yang ada sudah tidak lagi mencerminkan nilai nilai Islam, dan ini merupakan pekerjaan yang cukup rumit bagi sang pejuang Da’wah, salah satunya adalah masalah lahan, sebab tidak semua lahan dia bisa sentuh denga jubah kebesarannya, diperlukan penyesuaian untuk masuk ruang tersebut (bukan berarti hukum islam harus lentur). kalau saya mengandai dikasih dua pilihan oleh hukum setempat “bioskop ditutup atau film ayat ayat cinta diputar?”, tentu saja saya akan memilih bioskop ditutup, karena disitu banyak nilai2 Islam yang terjual. tapi sayang itu cuma lamunan saya, dan bioskop bioskop itu tetap terbuka. Setiap malam film film dari dalam atau luar negeri diputar tanpa adanya sensor, pengunjungpun berjejelan datang, dan saya hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat. mungkin ini bersangkutan dengan dua pilihan, ibarat makan buah simalakama, dua pilihan yang sama sama pahit, tapi kita masih punya fikiran untuk membandingkan, sehingga kita memilih yang agak lebih baik. (memutar film porno atau film yang ciuman?) maaf ini contoh, mana yang kita pilih? padahal kita belum bisa menghentikan pemutaran film tersebut,.apa kita hanya berteriak dari luar gedung bioskop melarang mereka nonton film???

adapun masalah yang lainnya (mungkin salah satunya bid’ah), itu adalah masalah ketegangan yang dari dulu belum terselesaikan, yang membuat kita terhanyut dalam ruang lingkup yang sama. Padahal masih banyak PR di luar yang lebih menyesatkan, baik itu kemaksiatan yang merajalelah, atau cara berfikir yang menyesatkan Aqidah. mana yang kita dahulukan, saling mengolok ngolok sesama sopir, sehingga melupakan penumpangnya, atau saling berlombah lombah jadi supir yang baik, yang selalu bekerja sama menyelamatkan penumpangnya dari jalanan????

berusaha menjadi sopir yang baik. yang mengikuti petunjuk arah, mematuhi aturan lalu lintas. Insya Allah, selamat sampai tujuan. Kalau menganggap berkebut-kebutan itu cara yang baik untuk sampai tujuan, ingatlah ada rambu yang membatasi kecepatan maksimal di setiap jalan. Kita tahu mau kemana kendaraan ini dituju. Namun kita tidak mengetahui jalannya. Kita tidak mengetahui jalannya. Kecuali, karena alamat yang kita pegang. dari peta yang menjadi pedoman, dan dari penunjuk arah yang menjadi ikutan. Patuhi sajalah.

assalammualaikum wr.wb.
maha suci Allah dengan segala firmannya..semoga kita semua masih terjaga dalam ukuwah islamiah dan berada didalam jalan Allah. amiin
Filem ayat- ayat cinta telah menembus rekor 3 juta penonton, begitulah berita hari ini…
masya Allah, ternyata sebuah filem yang mengangkat topik keislaman / poligami (tetapi bukan filem islam) bisa meledak dipasaran, dibanding filem cinta remaja atau filem takhayul. ada apa gerangan?
ini merupakan renungan…ternyata nilai keislaman merupakan sesuatu yang laku dijual bila dibungkus dengan rapi…
bukankah ini sesuatu yang membanggakan?
bukankah ini pertanda bahwa nilai islam mampu beradaptasi dengan kemajuan peradapan manusia?
islam adalah rahmatan lil alamin…islam adalah satu-satunya agama yang mendapat rahmat dari ALLAH swt, Tuhan Semesta Alam…
mengapa kita tdak saling bergandeng tangan untuk memajukan nilai-nilai islam?
menjaga ukuwah islamiah?
mencegah perpecahaan diantara kita?
saya yakin akan ada suatu saat nanti dimana kebangkitan islam di muka bumi ini…ISLAMHILOC Melanda DUNIA…berbondong-bondong masuk kegama islam…..
ALLAH HUAKBAR….
wassalam

Setuju dengan Dimas, emang Mas Lukman mau yang kaya apa see filmnya… ampun dah…. Orang tu kasi solusi bukan bikin panas, klo memang film AAC ga bagus, film yang bagus mestinya gimana??? coba jawab klo memang kau benar.

mas Lukman gini ya :

1. Islam itu agama yang rahmatan Lilalamin, agama yang didesign buat segala jaman alias agama yang flexible.

2. Terlalu su udzon ama film ayat2 cinta

3. Belajar Menghargailah Mas Lukman, Belajar melihat orang lain senang..

film2 sekarang khan banyakan yang pocong2an, mistis, sex, hedonisme… mbo klo ada orang yang mau bikin 1 film aja tentang tema religi kok malah di jatohin… Hargailah… Sudah syukur ada sutradara yang mo bikin film bertema religi

4. klo bioskop dianggep haram. Gimana dong filmnya om Dedy mizwar

5. Sudahlah mas Lukman, istighfar anda harus banyak belajar lagi tentang Islam dan indahnya Islam, jangan cuma menghujat2 dan menghujat.

Assalammualaikum wr.wb.

Shalawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW. Semoga safa’atnya kita terima di akherat kelak.
Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Kasih sayangnya yang tidak terputus sampai akherat kelak kepada kita semua.

Untuk mas Lukman, apakah mas Lukman sudah menonton film ini?

Masalah bercampur baurnya antara lelaki dan wanita yang bukan muhrimnya adalah haram, jelas memang hukum yang tidak bisa ditawar – tawar lagi.
Kalau mas Lukman tidak mau menonton di bioskop, mengapa mas Lukman tidak menunggu versi cd original nya saja, kemudian baru menonton baru memberi komentarnya.

Pertama :
Konflik antara sutradara dengan penulis novel tersebut itu adalah masalah internal mereka, kita orang islam tidak boleh melihat dan mencari aib orang lain.

Kedua:
Masalah para pemeran dalam film itu berpacaran, berpelukan itu adalah urusan mereka dengan Allah. Kita sebagai manusia hanya boleh memperingati
(memberitahukan) kepada saudara kita bahwa hal tersebut adalah salah.

Yang jadi intinya adalah masalah filmnya, film ini sangat mendidik bagi kita yang masih muda mudi khususnya. Misalnya Islam tidak mengenal pacaran, yang dibolehkan adalah memperkanalkan sang pria dengan calon istrinya (saya lupa apa istilahnya🙂, kalau setuju baru ke jenjang pernikahan. Ini sangat menjunjung martabat wanita, mengapa,
kita tidak terjatuh ke lembah zinah (sering terjadi jika muda-mudi terlalu lama berpacaran). Kalau sudah terjadi perzinahan yang rugi siapa, yang wanitakan kalau sampai hamil, benar tidak.

Masalah poligami, Islam membolehkan tetapi dengan syarat bisa berbuat adil lahir dan bathin, Coba saudara lihat film tersebut, ternyata sungguh berat berbuat adil untuk istri lebih dari satu, tidak seperti jaman sekarang istri satu tetapi simpanan sampai tiga, yang kasian siapa wanita juga kan. benar tidak.

Yang jadi pertanyaan saya mengapa mas Lukman tidak mau mengomentari film-film yang jelas merusak aqidah islam (film hantu ataupun film – film remaja lainnya), ataupun seperti tayangan-tayangan TV lainnya, seperti sup*** m***, k**, dan lainya yang membuat remaja-remaja kita rela mengobral auratnya, membuat remaja-remaja kita menjadi pemimpi di siang bolong.

adakah kemiripan yang didapat di film2 tersebut dengan sifat2 buruk yang telah dipaparkan di artikel ini? Kalau ada, maka sayapun (secara tidak langsung) mengomentari mereka dengan negatif. Itu saja dari saya. Sehingga, kalau tayangan tersebut mmbuat remaja2 kita mengobral aurat atau menjadi pemimpi di siang bolong, tinggalkan.

Ilmu yang membuat kita maju. Bukan penyair……

Ma’af terlalu panjang komentarnya.
Jika ada kata-kata yang salah itu datangnya dari saya dan saya memohon ma’af dan kepada Allah lah saya memohon ampu.

wah klo q sich ikut k mana aja. maksiat sich boleh dibilang ada. soalnya, banyak yang bilang adegan yang bisa dibilang gak boleh dilakukan yng bukan muhrim masih saja dilakukan. seperti misalnya, saa pasangan fahri & aisha yang di kehidupan asli kan belum suami-istri. ‘n fahri ‘n aisha juga sama aya pasangan sebelumnya. sebaiknya adegan yang kaya gitu ga’ usah dech diliatin!

assalamu alaikum…

hmm… saya memang sudah menonton film AAC tersebut… menurut saya ada scene yang dimana “Nurul melepas jilbabnya…” (hah?… melepas jilbab…?) ya.. melepas jilbab, begitulah adanya, seandainya kakak-kakak bayangkan seorang akhwat berjilbab yang kemudian melepas jilbab tersebut di depan mata khalayak yang jumlahnya banyak seiring meningkatnya jumlah yang menonton… bagaimana?

wassalamu alaikum…

Horeeee……6 kali nonton AAC…..

Om, Ada film yang lebih pantas anda hujat dari pada AAC.
yakni “FITNA THE MOVIE”…. kenpa mesti AAC???

“senang liat orang lain susah
susah liat orang lain senang…”

tanya kenapa???????

oya, setuju..kelukman, apa reaksi mu ttg the fitna???? mana?
itu..yang lu harus serang..buat tulisan apa yg tdk benar dr pendapat (sang pembuat) ttg islam..

Kontroversi wayang menjadi media dakwah ketika zaman walisongo….mungkin terulang saat ini…. hanya media nya yang berubah….

Tapi bersyukurlah… mungkin nenek moyang kita masuk islam setelah nonton wayang semalam suntuk…

Saya yakin semua supir sudah tau rambu2 lalu lintas, mana jalan yang baik dan mana jalan yang berlubang, sebab mereka bukan orang yang bodoh seperti yang anda kira, yang suka ngebut tanpa memperhatikan rambu2. Dengan sikap anda yang seperti ini, seakan akan anda lah orang yang memiliki rambu dan peta itu sendiri, dan anda lah orang yang paling tau rambu dan peta itu. anda ini seperti pengumudi yang selalu sinis dengan supir2 yang lain, padahal anda belum tau 180% hati dan kelakuan mereka, apakah yang anda maksud dengan sinis itu adalah Islam???

apakah anda sudah membaca hadis Rosululloh tentang orang yang sudang mengucapkan dua kalimat syahadat, orang yang masih menyakini dua kalimat tauhid???
apakah anda sudah membaca dan memahami hadis Rosululloh tentang semua muslim adalah saudara???
apakah ada sudah menghitung kalimat kafir yang terlulis dalam al Qur’an, dan apakah anda sudah tau kalimat kafir itu untuk siapa???
coba anda hitung lagi, setiap hari anda berdoa berapa kali meminta hati yang bersih, yang tidak mau memusihi sesama saudara yang masih memegang dua kalimat tauhid???

apakah anda sudah bertemu dengan kang abik sendiri, dan membicarakan novel beliau dengan baik2, dengan musyaroh yang islami. bukan malah menghujat di belakang layar, yang justru itu bertentangan dengan nilai dan hukum islam yang anda gembar gemborkan sendiri, “APA ANDA AKAN MAU MENGERTI, KALAU TULISAN ANDA INI ADALAH LEBIH MENYESATKAN DARI TULISAN MAKSIAT”
apakah anda sudah tau kalau anda menulis seperti ini juga sudah melanggar rambu dan peta seperti yang anda ungkapkan???

akhirnya, ternyata banyak cerita tentang ke ‘aliman kang abik, bahkan katanya kang abik itu bergerak sangat islami waktu dimesir, mungkin kalau orang liberal mengatakan kang abik itu Fundamental..

Wallahu a’lam, tidak ada satupun kalimat dari tulisan saya yang menyatakan (mengkafirkan) kang Abik, Mas Hanung dan lainnya. Ketahuilah, mengingatkan dengan mengkafirkan itu berbeda. Justeru, karena kita bersaudara maka perlu adanya budaya saling mengingatkan. Jika tidak tersampaikan kepada yang bersangkutan (pembuat dan pendukung film), minimal kepada yang telah mampir ke blog ini. Silakan dicari, mana kalimat yang terbaca bahwa saya mengkafirkan saudara saya seagama? Jika ada, akan saya ralat. Semoga Allah mengampuni saya.

Mas..mas..mas lukman,saya tahu mas punya niat baik buat kita semua…

tapi saya ingin sampe in semoga apa yg mas lukman sampe in itu bener niat karena Allah.. jangan sampe sampe-an juga jadi tersinggung dengan komentar teman2 yg lain..

karena Allah Maha Tahu.. apa yg ada di dalam HATi hamba nya..

Wassallam

Buat Mas Hanung.. Film yg anda garap sungguh luar biasa..

COBA BUAT LAGI FILM .. TAPI JUDUL NYA ” INDAH NYA HIDUP DENGAN CARA MENGENANG AKAN KEMATIAN”

Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan, “Aku sedang duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala datang seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?’ Beliau menjawab, ‘Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.’
‘Mukmin manakah yang paling cerdas?’, tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab:
أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
“Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

Ayat-Ayat Cinta digambarkan dengan keterbatasan sang sutradara dalam memahami ISLAM itu sendiri. Sejak dari awal niat sutradara/Produser dalam membuat Film ini bukanlah menyadur dari Novel yang telah dibuat, tapi lebih pada sisi komersialisasi.

Akhirnya Film ini menjadi bumerang bagi umat ISLAM, jelas jelas film ini memperolok ayat-ayat dalam Al Quran secara terang-terangan, sebagai contoh sang Sutradara ingin menggambarkan kemesraan antara suami istri dengan memfilmkan suasana di kamar. jelas-jelas itu adalah ZINA mata dan tidak pantas difilmkan, sudah melanggar hukum ISLAM (hukum yang harus ditaati oleh orang ISLAM). Dan BETUL sekali bahwa film ini berbahaya lebih berbahaya dari film FITNA ataupun film maksiat lainnya.

Jika dalam film FITNA dalam hati penonton terdapat jiwa penolakan bahwa ISLAM tidak seperti itu, lain halnya dengan film AAC ini yang akan mendoktrin penonton memahami bahwa semua yang ada dalam film ini benar adanya dan wajar dalam kehidupan ISLAM…itu sangat berbahaya

Allohu Yarham..

Saya tidak menuduh anda mengkafirkan, tulisan saya yang pertama cuma mengajak anda saling bergandeng tangan, tulisan yang ke dua juga begitu, dengan sedikit mengimbangi tanggapan anda. Saya cuma ingin saling mengingatkan, janganlah terlalu mengguman dirumah sendiri, karena kita adalah saudarah, masih banyak diluar sana yang perlu kita garap.

mungkin kita agak berbedah dengan cara, “mengingatkan dengan tanpa memperkeruh masalah”, terlebih kita tidak terjebak dengan maksud kita. Sangat menarik dengan tawaran anda “saling mengingatkan”, makanya saya juga mengingatkan anda, kalau cara anda mungkin harus sedikit di format ulang.

Sebelum film itu dibuat, saya juga tidak begitu setujuh dengan film itu, boleh dibilang, saya sedikit kecewa dengan sutradara.

Akhinal karim.. bukan niat saya memusuhi antum, saya minta maaf kalau tulisan saya menyinggung antum.. Jazakalloh khoir..

tulisan saya kok dihapus???
apa ini memang anda…

mas lukman interest banged sih ke soal AAC? udah nonton berapa kali nih? sama skali ga? yang bener? ga nonton bajakannya aja? saya punya😆

Yang menjadi heran adalah, kenapa film Ayat-ayat cinta dikatakan seperti itu lebih bahaya dari film maksiat lah dll. Kenapa ga diganti aja wacannya menjadi Film pocong merupakan permurtadan terhadap keyakinan–kan jelas.
atau film-film lainnya.
Film AAC memang mendapatkan opini dari berbagai kalangan yang sebagian besar “memandang bahaya”, tetapi kalo menurut saya, dimana pun kebaikan yang terkandung di dalamnya seperti halnya Islam, akan selalu mendapatkan “serangan” dari pihak yang tidak menyukainya lebih-lebih yang memiliki “kepentingan”. Seperti halnya Dakwah islam waktu zaman Nabi, bisa dibayangkan yang namanya fitnah, darah, siksa dll selalu ada dan meyertai perjuangannya.
Yang memerlukan “pencerahan” dengan harapan Allah menurunkan hidayah-Nya (sesuai dengan kehendak-Nya) tidak hanya orang-orang yang datang ke majelis, atau ke masjid. Orang-orang di bioskop juga memerlukan “pencerahan” karena kita tidak tahu, dari jutaan orang yang ada di bioskop yang tersebar di dunia ini, ada beberapa yang akan Allah berikan hidayah-Nya.
Dalam islam, take some good things, and leave some bad things….. easy kan..?
salam
D2MQ

Saya dukung Pak Lukman, membaca blog ini terasa ketulusan dan niat baik Pak Lukman.

Mereka2 itu mrasa benar sendiri dimana membuat pembahasan menjadi melebar sehingga tidak jelas, pake bw2 ‘mngapa tidak mengkritisi film FItna’, sudah jelas mreka2 itu tidak memahami apa yg ingin di sampaikan oleh bapak Lukman! sabar aja Pak Lukman. Saya saja yg yg “hitam” memahami apa yg di maksud oleh Pak Lukman, tp mengapa mreka2 yg mengutip ayat2 Al-quran dan bnyk penggalan kalimat2 dari Al-hadist itu masih bertanya2 hahahaha… anggap aja Pak Lukman sedang berkomunikasi dgn anak kecil, anak kecil slalu mengikuti nafsu dan slalu bertanya tanya bukan hehe.. HEIL HITLER

Reichfuehrer Himmler, anda salah jika menganggap enteng komentar yang sifatnya membangun, bahkan cenderung tidak menghiraukan masukkan yang disampaikan oleh orang-orang yang anda anggap “anak kecil”. Semoga Allah “memutihkan” ada dari kehitaman yang menyelimuti hidup anda…amiin

Assalamu’alikum.
Lagi2 koment tanpa hujjah.

telaso!!!!

Sudahlah, tidak patut bagi mukmin laki-laki dan perempuan apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan hukum, kemudian kita mencari hukum selain itu.
Kalo memang mau nyari ilmu, kenapa harus nonton film, tidak ada tuntutan nyari ilmu dengan cara melihat pemain sinetron yang mana pemainnya terdiri dari wanita dan laki-laki.
Coba difikirkan sejenak aja. janagan mengikuti perasaan.
memang pada dasarnya manusia memang seperti itu, selalu mencari Ruksah atas sesuatu yang ia suka, bahkan kalo bisa zinapun akan ia cari dalil kehalalannya.

Masih banyak hal-hal kecil yang belum bisa kita lakukan, minum saja masih sambil berdiri, sambil jalan, lalu bagaimana anda menilai sinetron A2C itu bermanfaat untuk anda…?

Wallahu’alam.

Fas alu ahlazzikri inkumtum la ta’lamun. bukan nonton film.
Saya yakin yang hadir diforum ini bukan untuk mencari Pembenaran tetapi mencari kebenaran. Nah kalo memang gitu prinsipnya maka apabila hujjah yang sahih telah sampai, maka terimalah, jangan mencari-cari Rukhsah-nya.

bismillahi, gak punya tv………………
gak mau melangkahkan kaki ke tempat maksiat dan tabarruj (bercampur baur nya laki dan perempuan) seperti bioskop, gak mau jatuh ke lubang ikhtilat (memandang lawan jenis tanpa hijab).

mending baca buku dan menyibuk kan diri dengan ilmu dari pada nonton acara-acara yang na’udzubillah……..

kiraman wa katibiin ada di samping kita yaa akhi dan Allah Maha Mengetaui apa yang kiita kerjakan, takutlh kita kepada Nya dan tetaplah ita berjalan di atas manhaj yang haq.

ta’awun bainananna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Statistik

  • 28,572 users

RSS Abu Salma M. Fachrozi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sunniy Salafiy

  • Haramnya Tathayyur (Anggapan Sial Karena Seseorang Atau Sesuatu)
    asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran,…Read more › […]
    Admin Blog Sunniy Salafy
  • Tidak Boleh Mengurungkan Hajat Karena Menganggap Sial Sesuatu
    asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang thiyarah mengurungkan dia dari hajatnya maka ia telah berbuat syirik”, Para shahabat bertanya, “Lalu apa kaffarahnya?”, Rasulullah shallallahu ’alaihi…Read more ›
    Admin Blog Sunniy Salafy
  • Keutamaan Puasa Ramadhan dan Hikmah Pensyariatan Puasa Ramadhan
    Majmu’ minal Ulama Keutamaannya Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، ومَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ…Read more › […]
    Admin Blog Sunniy Salafy

LINK SAHABAT

Promosi Author

%d blogger menyukai ini: