www.ruanghakim.co.cc

Keadilan Bukanlah Mempersamakan Perbedaan

Posted on: Juni 17, 2008

Bismillahirrohmanirrohim.

“Patutkah Kami menganggap orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Patutkah (pula) Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang berbuat maksiat?” (Shad: 28)


Ayat yang agung itu menjelaskan, bahwa perbedaan itu ada. Tidak hanya warna kulit, jenis kelamin, suku, bahasa yang berbeda. Sebagaimana dalam firmanNya yang lain:

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang lelaki dan seorang wanita, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-Hujurat: 13)

Ya, Allah menciptakan kita dengan segala perbedaan adalah agar kita mau memiliki keinginan untuk saling mengenal satu sama lain. Tidaklah dipisahkan si kulit hitam dengan yang berkulit putih. Tidak juga yang berbeda bahasa. Perbedaan yang seperti ini tidaklah menjadi sebab jarak pembatas antara yang dianggap baik dengan bagian yang dianggap buruk. Tidak, Demi Dzat Yang Menciptakan itu semua. Tidak ada satupun ayat yang mencela kulit hitam atau memuji laki-laki dan mencela wanita.

Islam tidak memisahkan jarak antara si kaya dan si miskin. Yang kaya diwajibkan membantu yang miskin. Kaya dan miskin memang berbeda, tapi untuk saling mengasihi. Terlalu banyak ayat dalam Al Qur’an yang menyatakan anjuran untuk bersodaqoh. Zakat, adalah kewajiban yang harus dikeluarkan bagi yang mempunyai harta lebih. Dikeluarkan untuk dibagikan kepada orang-orang yang berhak, di antaranya faqir dan miskin.

Jika hal seperti itu kita bisa mengatakan adanya perbedaan di antara kita. Lantas, mengapa kita mengatakan bahwa semua agama itu sama?
Apa? Bagaimana? Di mana letak persamaannya? Kalian bilang soal esensi yang terkandung di dalamnya? Apa esensi dari sebuah agama? Karena semua agama menganjurkan untuk berbuat baik?
Duhai kita yang telah bersyahadat bahwa tiada ilah kecuali Allah Yang Esa, Tidak ada sekutu bagiNya. Dan bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hambaNya dan rosulNya. Kemana kita berpijak dalam berucap dan berpikir?
Apalah artinya ayat-ayat di bawah ini:
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Uzair itu putera Allah’, dan orang Nashrani berkata, ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (At-Taubah: 30-31)

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: Bahwa Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (Al-Maidah: 73)

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putera Maryam.” (Al-Maidah: 78)

“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (Al-Bayyinah: 6)

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Dan juga hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam:
“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah dari umat ini baik Yahudi atau Nashrani mendengar tentang aku, kemudian dia mati dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya kecuali ia termasuk ahli neraka.” (Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Kalau perkara suku, bahasa, jenis kelamin, warna kulit dan yang semisalnya, Allah tidak pernah mencela atau menganjurkan kepada kita agar warna seseorang diharuskan sama dengan kita. Misalnya kita hitam, maka harus hitam semua. Misalnya kita berhidung mancung, maka harus mancung semua. Atau karena kita laki-laki, maka yang perempuan harus dibunuh agar yang tersisa hanya laki-laki saja. Tidak. Cari satu ayat dalam Al Qur’an atau hadits nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan tentang itu.

Dan sangat jelas di dalam Al Qur’an dan hadits nabi yang telah disebutkan di atas. Bahwa, tidaklah sama antara orang-orang yang beriman dengan orang yang kafir. Tidaklah sama antara yang beramal sholih dengan yang berbuat kerusakan. Dan Allah memuji salah satu di antara keduanya dan mencela yang lainnya. Allah mewajibkan kita untuk melakukan yang satunya dan mewajibkan kita untuk menjauhi satu yang lainnya. Ditegaskan bahwa Allah mencintai atau mencela satu di antara keduanya.

Mengapa Allah memasukkan ke dalam neraka orang-orang di luar Islam? Bukankah mereka ciptaan Allah juga? Bukankah mereka di sisi lain berbuat baik juga?
Hei kita yang merasa akal ini begitu hebatnya, duhai kita yang merasa diri ini begitu arifnya, duhai kita yang merasa diri ini begitu bijaksananya. Telah berlalu masa di mana Islam ini dibawa oleh Muhammad rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang arif, bijaksana, lagi dapat dipercaya. Yang mampu menegarkan kalimat tauhid di mulut sang Bilal meski harus menahan batu di atas tubuhnya. Yang mampu meneteskan air mata seorang kafir yang buta ketika tahu bahwa rosululloh telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Adakah ia mengatakan bahwa agama itu sama? Tidak, bahkan melalui mulutnya Allah mengatakan bahwa hanyalah Islam agama yang diridhoi di sisiNya. Dan masuklah ke dalam neraka untuk selama-lamanya bagi orang-orang yang kafir terhadapnya.
Bukan karena kita harus mengetahuinya, lantas membodohkan diri kita. Terlalu banyak perkara yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Karena Allah yang menciptakannya, maka Allah pulalah yang mengetahui perkara terbaik untuk kita, makhluq ciptaanNya.

Wallahu a’lam.

2 Tanggapan to "Keadilan Bukanlah Mempersamakan Perbedaan"

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perjalanan umrah ustadz Jafar Umar thalib, bisa dibaca disini…
http://inilahfakta.wordpress.com/2010/05/08/kisah-perjalanan-umrah-ustadz-jafar/

Mudah-mudahan bermanfaat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Statistik

  • 28,572 users

RSS Abu Salma M. Fachrozi

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sunniy Salafiy

  • Haramnya Tathayyur (Anggapan Sial Karena Seseorang Atau Sesuatu)
    asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran,…Read more › […]
    Admin Blog Sunniy Salafy
  • Tidak Boleh Mengurungkan Hajat Karena Menganggap Sial Sesuatu
    asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz Sulaiman al-Qar’awi Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang thiyarah mengurungkan dia dari hajatnya maka ia telah berbuat syirik”, Para shahabat bertanya, “Lalu apa kaffarahnya?”, Rasulullah shallallahu ’alaihi…Read more ›
    Admin Blog Sunniy Salafy
  • Keutamaan Puasa Ramadhan dan Hikmah Pensyariatan Puasa Ramadhan
    Majmu’ minal Ulama Keutamaannya Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدَرَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، ومَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ…Read more › […]
    Admin Blog Sunniy Salafy

LINK SAHABAT

Promosi Author

%d blogger menyukai ini: